Saya, Ijasah, dan Kembali Kuliah

Ada kejanggalan ketika saya kembali memasuki dunia kuliah. Saya kembali mengambil kuliah setelah sebelumnya gagal mencapai gelar sarjana S1. Dulu saya kuliah di STKIP PGRI Jakarta kampus A, sekarang UNINDRA (Universitas Indraprasta) namanya. Saya ambil jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Saya gagal waktu itu karena ketika dulu ingin memasuki skripsi saya diwajibkan untuk ikut PPL (Pengalaman Pendidikan Lapangan) sebagai suatu syarat untuk bisa Sidang Skripsi dan mendapatkan Ijasah Akta IV (Ijasah untuk mengajar). Untuk ikut PPL itu saya tidak bisa karena saya sedang asyik menjadi seorang karyawan kantoran yang sehari-harinya duduk didepan komputer untuk meng-arange suatu file midi guna dijadikan ringtone. Saya terlalu asyik dan amat menyukai pekerjaan saya, sehingga saya memutuskan untuk berhenti kuliah saja, padahal hanya tinggal PPL dan Skripsi.

Seiring dengan perjalanan saya menjadi karyawan, saya di promosikan untuk menjadi seorang System Analyst dan Java Programmer di perusahaan tempat saya bekerja. Saya ambil saja karena menurut saya, kita kerja harus punya kemajuan jangan cuma stuck di tempat yang itu-itu saja. Promosi yang jatuh ke tangan saya bukan tanpa sebab. Atasan saya sebelumnya memang sudah tahu bahwa saya sudah bisa me-mrogram dan melakukan pekerjaan IT lainnya sejak lama. Jadilah saya seorang System Analyst dan Java Programmer tanpa IJASAH.

Saya tahu ada kelemahan pada saya. Bahwa saya tidak mempunyai selembar surat sakti yang saya sebut IJASAH. Oleh karena itu, tanpa pikir panjang saya melanjutkan kuliah lagi dan saya berniat kali ini saya harus lulus, tidak boleh tidak lulus, meski cuma D3, tapi masih lebih baik daripada kuliah tapi tidak pernah punya IJASAH sama sekali. Kali ini saya ambil jurusan Manajemen Informatika di Bina Sarana Informatika.

Hari pertama masuk kuliah saya ragu, dan mungkin sedikit grogi, bagaimana tidak, usia saya genap 29 tahun saat itu dan saya mau tidak mau harus bercampur dengan teman-teman yang usianya lebih muda 6 hingga 10 tahun dari saya. Saya sudah beristri dan mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik (Thnks God…!!). Dan teman-teman kuliah saya masih asyik ber-romansa menjalani masa pacarannya.

Awalnya saya ingin keep my personality. Tapi akhirnya saya jujur kepada teman-teman kuliah saya tentang saya sebenarnya ketika mereka bertanya. Most of them tertarik pada pekerjaan saya, karena dosen-dosen dikampus sering kali menceritakan betapa enaknya jadi seorang programmer.

Pada perkuliahan yang berjalan, saya nyaris tidak punya kesulitan menghadapi kembali materi kuliah yang diberikan dosen, terutama mata kuliah – mata kuliah yang berhubungan dengan IT. Bahkan terkadang saya sering menjumpai asisten-asisten dosen yang menghindar dari pertanyaan-pertanyaan saya seputar materi kuliah. Padahal saya memang bertanya karena saya tidak tahu atau saya tidak mengerti bukan bertanya untuk menguji kemampuan seorang dosen atau asisten dosen. Saya bukan tipe orang yang suka menguji orang lain. Buat saya tidak ada untungnya. Misal ketika belajar PASCAL memang saya tidak tahu syntaxnya, saya pasti tanya karena saya memang tidak pernah tahu pascal, saya mengerti logika programnya tapi syntaxnya saya tidak tahu, itulah yang saya tanyakan. Salam buat AssDos-ku (Endah) yang manis. He..he.he.he…

Ok, let’s talk about my college friend. Ada sekitar 20-an teman yang biasa saya habiskan jam-jam sebelum dan sesudah kuliah untuk hang-out bersamanya. Main futsal, belajar bareng, jalan-jalan, dan diskusi, serta debat kusir, itulah yang sering saya lakukan diluar jam-jam kuliah. Buat saya kegiatan seperti itu mampu membuat saya fresh dari rutinitas pekerjaan yang tiap hari selalu saya lakukan. Sebagian besar dari mereka juga sudah bekerja, ada Aris yang teknisi listrik, ada Ari yang seorang Data Entry, ada Eka seorang operator mesin industri di sebuah pabrik di Jak-Tim, ada juga Lidya seorang Resepsionis di pusat pertokoan elite Jakarta. Yang terakhir saya sebutkan adalah satu-satunya perempuan yang mau hang-out bersama saya dan teman-teman saya yang lain. Dan masih banyak lagi yang lain.

Lantas apa yang janggal dari permulaan kalimat di atas, saya tidak tahu, kalo janggal kemudian saya tahu bukan janggal namanya, tapi jelas. Yang pasti Saya, Ijasah dan Kembali Kuliah adalah satu hal yang janggal, yang saya tidak pernah tahu sebabnya kenapa saya bilang janggal.


Menteng 29, Juni 2008

Josescalia

One thought on “Saya, Ijasah, dan Kembali Kuliah

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s